3 Fondasi Mutlak Membangun Budaya K3L untuk Mencapai Kinerja Terbaik

site development service

K3L adalah kebutuhan organisasi untuk memastikan seluruh pekerja dalam keadaan Selamat dan Sehat dalam bekerja serta memastikan semua kegiatan usaha dari organisasi tidak menimbulkan pencemaran atau merusak lingkungan secara langsung ataupun tidak.

Perkembangan dan kompetisi usaha di berbagai sektor semakin hari menjadi semakin ketat, harga sebuah produk atau jasa bukan lagi menjadi tuntutan utama pelanggan. Kepatuhan terhadap perturan perundangan, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), tanggungjawab sosial perusahaan menjadi hal yang disyaratkan untuk memastikan kelangsungan usaha selain perlindungan lingkungan hidup. Hal ini didorong oleh kepedulian masyarakat, pemerintah, organisasi dunia, organisasi profesi dan Lembaga Swadaya Masyarakat. Kinerja K3 dan Lingkungan menjadi cermin kemapanan organisasi dan jaminan keberlangsungan usaha.

Kinerja K3L secara umum dan mudah dikenali dengan ada atau tidaknya kerugian atau biaya yang dikeluarkan setelah terjadinya insiden. Sebaliknya, tidak ada kerugian atau biaya yang timbul karena suatu insiden bukan berarti organisasi dalam keadaan “baik-baik saja”. Ini menjadi dasar baru dalam menetapkan kriteria kinerja K3 untuk sebuah organisasi, dimana bukan hanya lagging indicator yang menjadi ukuran keberhasilan K3 melainkan bagaimana perilaku organisasi melindungi lingkungan dan menjamin keselamatan, kesehatan kerja karyawan dan orang yang terlibat ditunjukkan oleh seluruh tingkat karyawan dan menjadi hal yang lumrah dan konsisten. 

Untuk mencapai kinerja K3L yang kokoh dan berdampak positif bagi keberlangsungan usaha, organisasi harus memiliki budaya K3L yang kuat.  Banyak organisasi gagal dalam membangun budaya K3L meskipun telah menginvestasikan sumberdaya yang besar dan dalam waktu yang lama. Ada juga organisasi yang dibangun dengan mempertimbangkan banyak persyaratan K3L, memiliki komitmen yang besar dari pucuk pimpinan dan memiliki manajer yang K3L yang hebat, tetapi tertatih-tatih dalam penerapan K3L. Mengapa hal ini terjadi? Apa yang belum tepat?

Saya pernah bertanya kepada seorang tukang banguanan, bagaimana memastikan rumah kuat dan tahan jika terjadi gempa? Apakah harus dengan rangka baja dan dinding bata ringan? Jawabnya sangat singkat dan jelas, pastikan fondasinya kuat dan benar. meskipun kita membangun dengan batu bata ringan dan rangka baja, atau dengan beton yang tebal, jika fondasinya tidak sesuai maka rumah tetap tidak akan kuat, apalagi diterpa gempa. 

Apa hubungannya dengan K3L?

Analogi ini cocok untuk menggambarkan bagaimana mambangun dan mencapai kinerja K3L yang kuat. Bangunan K3L tidak akan kuat dan mencapai harapan jika tidak diletakkan fondasi yang tepat dan kuat. Manusia, Infrastruktur dan Sistem Manajemen adalah fondasi yang mutlak diletakkan untuk membangun K3L. Ketiga  dasar tersebut adalah segitiga K3L yang tidak dapat akan menjadi dasar yang kuat jika dihilangkan salah satunya.

Jalinan antar faktor fondasi K3L adalah hal mutlak yang menjadi kunci bagi organisasi untuk membanun budaya K3L dan memenangkan kepentingan pelanggan dan masyarakat dalam persaingan usaha. Ketiadaan atau lemahnya salah satu faktor memengaruhi struktur, kestabilan, keandalan, keselarasan, Efisiensi penerapan K3L akan berdampak kepada lemahnya budaya dan pencapaian kinerja yang tidak maksimal.

 

  1. Manusia

Salah satu yang menjadi sasaran penerapan K3L adalah manusia, yaitu dengan memastikan dapat bekerja dengan selamat dan sehat. Perlindungan terhadap manusia yang bekerja menjadi bagian terpenting karena penghargaan atas hak hidup yang dilindungi undang-undang, khususnya di Indonesia. Di Negara Republik Indonesia, undang-undang nomor 1 tahun 1970 meskipun telah lebih dari 50 tahun masih menjadi landasan hukum K3 dibawah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Adalah kewajiban dari setiap organisasi dan pengusaha untuk menjamin keselamatan dan Kesehatan dari setiap orang yang bekerja. 

 

Selain sebagi sasaran, manusia yang berkedudukan sebagai pemangku kepentingan berperan juga sebagai penentu kebijakan. 

  1. Infrastruktur
  2. Sistem Manajemen
Scroll to Top